FENOMENOLOGI
MENURUT EDMUD HUSSERL
Disusun untuk memenuhi
Tugas mata kuliah: Filsafat Umum
Dosen Pengampu: Dr. Usman SS. M. Ag
Disusun oleh:
Nama : Najiba
Rahmawati
NIM : 14410111
Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta
2014
KATA PENGANTAR
Assalamualikum Wr. Wb
Puji syukur kita
panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan inayah-Nya serta
nikmat sehat sehingga penyusunan makalah guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat
Umum ini dapat selesai sesuai dengan waktunya. Shalawat serta salam selalu tercurahkan
kepada baginda Nabi Agung Muhammad SAW dan semoga kita selalu berpegang teguh
pada sunnahnya Amin.
Dalam penyusunan
makalah ini tentunya ada hambatan yang selalu mengiringi namun atas kerja sama
dan diskusi, akhirnya semua hambatan dalam penyusunan makalah ini dapat
teratasi.
Makalah ini disusun
dengan tujuan sebagai informasi serta untuk menambah wawasan khususnya dalam
studi filsafat fenomenologi dan adapun metode yang kami ambil dalam penyusunan
makalah ini adalah berdasarkan pengumpulan sumber informasi dari berbagai
sumber buku,karya tulis dan media massa yang mendukung dengan tema makalah ini.
Semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat dan sebagai sumbangsih pemikiran khususnya untuk para
pembaca dan tidak lupa kami mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini
terdapat kesalahan baik dalam kosa kata ataupun isi dari keseluruhan makalah
ini. Kami sebagai penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kebaikan kami untuk
kedepannya.
Wassalamualikum Wr.Wb
Yogyakarta, 29 September 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................ 2
DAFTAR ISI................................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................................ 4
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
A. Kehidupan Husserl.................................................................................................. 6
B. Karya-Karya Husserl............................................................................................... 8
C. Filsafat Fenomenologi Husserl................................................................................ 9
D. Metode Fenomenologi............................................................................................. 11
E. Ciri-Ciri Psikologi Fenomenologi............................................................................ 13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................................. 15
B. Saran ....................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Filsafat
manusia merupakan bagian integral dari sistem filsafat, yang fokus menyoroti
hakikat atau esensi manusia. Ditinjau dari sudut pandang ontologis, filsafat
manusia memiliki kedudukan yang relatif lebih penting karena semua cabang
filsafat, yakni etika, kosmologi, epistemologi, filsafat sosial, dan estetika,
bermuara pada persoalan asasi berkenaan dengan esensi manusia. Adapun salah
satu pembahasan dalam filsafat manusia yang cukup mendapat perhatian dewasa ini
adalah fenomenologi.
Kata
fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak,
yang terlihat karena berkecakupan. Dalam bahasa indonesia biasa dipakai istilah
gejala. Secara istilah, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang
apa yang tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa fenomenologi
adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak
atau yang menampakkan diri.
Salah satu
prinsip dasar lainnya yang terkait dengan fenomenologi menyebutkan bahwa hanya
sebuah analisi kegiatan dan susunan kesaran yang bisa memberikan pengertian
tentang fenomena yang kita alami karena kesadaran diri mewakili mereka. Edmund
Husserl dan para fenomenolog lainnya menekankan aspek kesengajaan dari
kesadran; kesadaran diarahkan terhadap objek-objek; ini merupakan asal
kesadaran yang bermuat aksi-aksi yang disengaja dan objek-objek yang
diinginkan.
Selain itu,
fenomenologi juga bisa dilihat dari penolakannya atas empirisme dan metode
ilmiah serta filsafat apa pun (misalnya naturalisme) yang bersandarkan padanya.
Bahkan, fenomenologi menolak pandangan dunia iliah atau system metafisika yang
menggabungkan beberapa ilmu karena ilmu-ilmu tersebut merupakan gambaran dasar
dunia secara ilmiah. Fenomenologi dengan sengaja menjadi sebuah filsafat; ini
merupakan metode atau fakta independen mengenai ilmu alamiah, ilmu social dan
sejarah; filsafat tersebut memperhitungkan kesadaran dan fenomena pengalaman
yang hanya berasal dari sebuah filsafat, analisis internal kesadaran dirinya.
Husserl agaknya
memiliki sesuatu yang hebat untuk ditambahkan dalam prinsip-prinsip fenomenologi.
Husserl melihat dirinya hidup dalam masa krisis, seperti yang dia nyatakan
dalam judul yang controversial pada tulisan filsafat terakhirnya, Philosophy and the Crisis of European Man (1935).
Krisis intelektual dunia Barat, menurut Husserl, terjadi ketika kita
kehilanagan keyakianan akan kepastian rasional dan kebenaran.[1]
Perlu diketahui
bahwa di sini penulis hanya membahas beberapa hal dari kehidupan Edmund
Husserl. Pertama, kehidupan Husserl. Dalam mendalami pemikirannya, tentu lebih
utama kita harus tahu sedikit mengenai identitasnya. Siapa dia, berasal dari
mana, bagaimana latar belakang kehidupannya, dan sebagainya. Dua, karya atau
pemikiran utamanya. Untuk mengetahui pemikirannya, perlulah kita mengerti
terlebih dahulu tulisan-tulisan terpentingnya. Tiga, pikiran-pikiran pokok.
Tulisan ini difokuskan pada “pemikiran fenomenologi menurut Edmund Husserl”.
Hal itu karena, ia tokoh pertama selaku pendiri aliran ini. Ia mempengaruhi
filsafat abad XX secara mendalam sampai pada penemuan akan analisa struktur
intensi dari tindakan-tindakan mental dan sebagaimana struktur ini terarah pada
obyek real dan ideal.
Bagi Husserl, Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi.
Bagi Husserl, Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
sejarah kehidupan Husserl?
2.
Apa
saja karya-karya Husserl?
3.
Apa
yang dimaksud filsafat fenomenologi menurut Husserl?
4.
Bagaimana
metode fenomenologis Husserl?
5.
Apa
saja ciri-ciri psikologi fenonomenologi?
C.
Tujuan
penulisan
Secara umum karya ini memiliki tujuan yaitu untuk memberi wawasan
terhadap pengetahuan filsafat pada umumnya dan fenomenologi pada khususnya,
mengingat pengetahuan filsafat merupakan pengetahuan yang memerlukan energi
yang cukup untuk mempelajarinya, hingga mampu masuk ke “relung” terdalam dari
ranah filsafat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kehidupan Husserl
Edmund Husserl (1859-1938) dilahirkan di Moravia, sebuah kota yang
waktu itu termasuk wilayah Kekaisaran Austria, dan sekarang berada di wilayah
Cekoslowaika. Ketika Husserl mulai studi akademisnya, minat utamanya adalah
pada matematika dan ilmu-ilmu pengetahuan alam. Untuk pertama kali ia pergi ke
Leipzgig pada tahun 1876, tempat ia mengikuti kuliah-kuliah Wilhelm Wundt,
pendiri psikologi eksperimental. Windt tidak menimbulkan kesan khusu bagi
Husserl, dan dikemudian hari Husserl banyak mengkritik ajaran Wundt. Dua tahun
kemudian ia pergi ke Berlin untuk belajar matematika. Dari berlin Husserl pergi
ke Wina dan menyelesaikan studinya dengan disertai tentang masalah kalkus pada
tahun 1883. Setelah memangku jabatan asisten dosen matematika di Universitas
Berlin, Husserl kembali ke Wina pada tahun 1884, dan memusatkan perhatiannya
pada studi filsafat dibawah bimbingan Franz Brentano.
Brentano memberikan pengarunya kepada Husserl memalui lebih dari
satu jalan. Karena Brentano inilah Husserl memilih filsafat sebagai karir
sepanjang hidupnya. Lebih dari itu, ajaran Brentano-lah yang menyuburkan
pemikiran Husserl, dan mengarahkannya pada pengembangan fenomenologi. Oleh
karena itu gagasan filosofis Brentano merupakan benih bagi filsafat baru ini, Brentano
pantas disebut sebagai pelopor gerakan fenomenologi. Husserl mengungkapkan
hutang budinya pada Brentano dengan menyebutkan Brentano sebagai “seorang dan
satu-satunya guru saya dalam filsafat”. Kepribadian Brentano juga memiliki
pengaruh yang kuat terhadap Husserl. Seperti gurunya Husserl merasa bahwa ia
membawa misi yang harus ditunaikan dalam hidupnya. Lambat laun kedua orang ini
terpisah secara intelektual. Brentano tidak menyukai sejumlah gagasan Husserl,
tetapi mereka tetap menjalin persahabatan. Husserl juga belajar di bawah
bimbingan murid Brentano, Carl Stumpf, di HaBe, dan hubungan mereka pun
bersahabat. Nayatnya, Husserl mempersembahkan bukunya yang berjudul Logische Untersuchungen (Logical
Interstigatons, 1900) kepada Stumpf “dengan rasa hormat dan persahabatan”.
Karir akademis Husserl dalam filsafat dimulai di Universitas Halle
pada tahun 1887, ketika ia manjadi dosen setelah menyelesaikan tesis tentang
konsp angka. Ia mengajar di Halle selama 14 tahun. Pada tahun 1901 Husserl
pindah ke Universitas Gottingen, menjadi guru besar pembantu sampai tahun 1916.
Rekannya di Universitas Gottingen ini adalah pelopor psikologi eskperimental,
Georg E. Muller, yang memiliki laboratorium yang aktif dan yang mahasiswa-mahasiswanya
juga menaruh minat pada kuliah-kuliah Husserl. Di kalangan mahasiswa Gottingen,
Husserl menemuka pengikut yang membentuk kelompok khusus untuk mendiskusiakan
fenomenologi. Kelompok serupa dibentuk di Universitas Munich. Pada tahap awal
gerakan fenomenologi ini perbedaan-perbedaan yang luas dikalangan anggota
kelompok-kelompok tersebut mulai tampak.
Pada tahun 1916, Usserl menerima pengangkatan sebagai guru besar
penuh di Universitas Freiburg di Breisgau, jabatan yang dipegangnya sampai ia
pension pada tahun 1929. Pada periode ini maupun periode sesudahnya, Husserl
memberikan kuliah-kuliah fenomenologi di universitas-universitas lain di
London, Praha, Wina, dan Paris. Asistennya di Freiburg adalah Martin Heidegger
yang kemudian hari menggantikan kedudukan Husserl sebagai guru besar. Husserl
meninggal di Freiburg pada tahun 1938, pada usia 79 tahun. Sebelum meninggal,
Husserl aktif mengembangkan gerakan fenomenologinya, sehingga sesudah Husserl
meninggal fenomenologi telah menjadi geraka yang kuat, dan Husserl sendiri
memperoleh pengakuan sebagai seorang intelek yang tajam dan sebagai filsuf yang
paling berpengaruh pada abad ke-20.
B.
Karya-Karya Utama Husserl
Selama
hidupnya, Husserl telah menerbitkan enam buah buku. Bagaimanapun, disamping
keenam bukunya itu, Husserl meninggalkan tulisan sebanyak 47.000 halaman
tulisan tanga, dan 12.000 halaman tulisan ketikan. Tulisan-tulisan ini
disamping di Arsip Hursserl di Universitas Louvain, Belgia. Lenih dari 20
volume tulisan-tulisan tersebut telah diterbitkan. The New School for Social Research dikota New York menyalin
tulisan-tulisan Husserl yang disajikan bagi para mahasiswa di Arsip Husserl,
yang dibuka pada tahun 1969. Karya-karya yang dihasilkan oleh Hursserl adalah:
1. Philosophie
der Arithmetik (The Philosophy of Arithmetic, 1891) buku ini belum
secara eksplisit menerangkan fenomenologi.
2. Logische
Untersuchungen (dalam bahasa Inggris, Logical Investigation) buku yang kedua ini merupakan permulaan gagasan-gagasan
fenomenologi Husserl yang terdiri dari dua volume, yang direvisi dan
diterbitkan dalam tiga volume pada tahun 1913. Tema sentral buku tersebut
adalah landasan logika.
3. Ideen
zu einer reinen Phanomenologie und phanomenologischen Philosophie (dalam bahas Inggris, Ideas: General
Introduction to Pure Phenomenology, 1939), Husserl menghadirkan
fenomenologi sebagi metode objektif yang bisa diterapkan pada filsafat ataupun
ilmu pengetahuan.
4. Vorlesungen
zu Phanomenolgie des inneren Zeitbewusstseins (Lectures on the
Phenomenology of Inner Awareness of Time, 1928) buku ini berisi studi
psikologi tentang presepsi waktu.
5. Formale
und Tranzendental Logik (Formal and Transcendental Logic, 1929)
dan Erfahrung un Urteil (Experience and Judgement, 1939) buku ini
menandai perkembangan lebih lanjut dari fenomenologi Husserl.
6. Meditations
Cartesiennes (dalam bahasa
Inggris, Cartesian Meditations, 1931)
buku ini adalah buku yang terakhir diterbitkan sebelum Husserlmeninggal yang
berisirangkuman kuliah-kuliahnya di Paris, dan yang muncul pertama kali dalam
bahasa Prancis.
C.
Filsafat Fenomenologi Husserl
Dalam mengikhtisarkan filsafat Husserl, kita perlu selektif dan
memusatkan perhatian hanya pada pemikiran-pemikiran yang relevan dengan
psikologi fenomenologi. Oleh karena itu, uraian berikut akan mencakup
anggapan-anggapan dasar fenomenologi, karakteristik-karakteristik yang esensial
dari metode fenomenologis dan konsep intensionaitas.
Pemikiran Husserl mengalami modifikasi yang sinambung. Sejarawan
gerakan fenomenologi mencatat perbedaan atara pemikiran-pemikiran Husserl awal
dengan pemikiran-pemikirannya yang terakhir, terutama yang dijumpai dalam
tulisan-tulisannya yang diterbitkan sesudah Husserl meninggal. Salah satu
konsep terakhir dari Husserl adalah Lebenswelt
(life world, dunia hidup, yakni dunia pengalaman sehari-hari), yang
mendapat tempat khusus dalam tulisan-tulisan para fenomenolog dan
eksistensialis konteporer.
Suatu pendekatan untuk memahami fenomenologi adalah memandangnya
dengan refernsi pada masalah filsafat yang paling tua dan paling mendasar: Apa
kaitan antara realitas objektif yang hadir diluar pemikiran dengan pemikiran
yang kita miliki tentang realitas objektif itu? Bagaimana dua dunia itu, duina
pemikiran dan dunia realitas objektif, saling berkaitan? Segenap filsafat telah
berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Fenomenologi juga telah membuat usaha
serupa. Keberangkatannya bertolak dari afirmasi-afirmasi:
Pemerikasaan filosofis tidak bisa dimulai kecuali dari fenomena
kesadaran,sebab hanya fenomena itulah yang tersedia bagi kita, dan hanya
fenomena itulah bahan yang bisa segera digunakan oleh kita.
Dan hanya fenomena itulah yang membukakan kepada kita, apa esensi
sesuatu itu. Fenomenologi juga berlandaskan pada konsep intensionalitas yang
akan diuraikan kelak. Dengan konsep intensionalitas, fenomenologi menghindari
dilemma subjek-objek yang menurut Rollo May, “mengacaukan pemikiran dan
pengetahuan Barat”, khususnya sejak Descartes. Menurut, Husserl, pendekatan
yang mungkin untukmengetahui berbagai hal (fenomena) adalah mengeksplorasi
kesadaran manusia. Jadi, fenomenologu pada prinsipnya adalah esplorasi yang
sangat sistematik dan penuh atas kesadaran manusia.
Fenomena kesadaran itu amat banyak dan beragam: benda-benda,
orang-orang, kejadian-kejadian, pengalaman-pengalaman, ingatan-ingatan,
pemikiran-pemikiran, suasana-suasana hati (moods), perasaan-perasaan,
gambaran-gambaran, khayalan-khayalan, susunan-susunan mental, dan sebagainya.
Fenomenologi mencatat frnomena itu, dan mengeksplorasinya melalui metode khusus
yang disebut metode fenomenologis. Husserl bukan penemu atau filsuf pertama
yang menggunakan metode fenomenologis, melaikan penyempurna yang menspesifikasi
kondis-kondis dan objek-objeknya, sera mengangkat status metode fenomenologi
itu sebagai suatu prosedur filosofis yang frundamental. Metode fenomenologis
menjadi kunci bagi sistem filsafat Husserl. Memalui penggunaan metode
fenomenologis, Husserl berharap bisa memperbaharui filsafat dan, pada
gilirannya, bisa membangun filsafat ilmiah yang menyajikan basis bagi segenap
ilmu pengetahuan. Langkah pertma yang diambil Husserl ke arah pembangunan
filsafat ilmiah itu adalah menunukan kekeliruan psikologisme, yakni suatu teori
yang menyebutkan bahwa kebenaran matematika dan logia bergantung pada
huku-hukum psikologis. Husserl memandang hukum-hukum logika dan matematika
bukan sebagai hokum-hukum yang kebenarannya bergantung pada hokum-hukum
psikologis atau dihasilkan dari proses-proses psikologis, tetapi sebagi hukum-hukum
yang membuktikan dirinya sendiri benar, universal, dan abadi.
Upaya Husserl untuk membangun ilmu rigorous membawanya pada
radikalisme “filsafat”, yaitu perjuangan untuk kembali kepada sumber, landasan
awal, akar, atau permulaan dari semua jenis dan bentuk pengetahuan atau teori
yang selama ini sudah kita ketahui dan kita anggap sebagai pengetahuan atau
teori yang ‘benar’. Ajakan ini sudah sanggat terkenal dalam duna filsafat.
Husserl mengekspresikam ajakan ini melalui Zu
den sachen selbst, ‘kembali kepada benda itu sendiri’, atau ‘kembali ke
realitasnya sendiri’. Maksudnya, kembali kepada gejala pertama dan asli,
seperti yang dituju oleh semua pengetahuan, konsep, proposisi, dan teori, atau
hokum yang terdapat dalam semua filsafat dan ilmu.
Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl member pengetahuan
yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada. Dalam berbagai tahapan
penelitiannya, Husserl menemukan objek-objek yang membentuk dunia yang kita
alami. Dengan demikian, fenomenologi bisa dijelaskan sebagai metode kembali ke
benda itu sendiri, dan ini disebabkan karena benda itu sendiri merupakan objek
kesadaran langsung dalam bentuk yang murni. Aspek fenomenologi Husserl yang
berusaha menggali perngkat hokum kesadaran manusiawi yang esensial serta
kait-mengkait disebut fenomenologi transcendental.[2]
D.
Metode Fenomenologis
Metode fenomenologis terdiri dari pengujian terhadap apa saja yang
ditemukan dalam kesadaran atau dengan kata lain, terhadap data atau fenomena
kesadaran. Sasaran utama metode fenomenologis bukan lah tindakan kesadaran,
melainkan objek dari kesadaran,umpannya, segenap hal yang dipersepsi,
dibayangkan, diragukan, atau disukai. Tujuan utamanya adalah menjangkau
esensi-esensi hal-hal tertentu yang hadir dalam kesadaran. Metode fenomenologis
dipraktekkan dengan cara yang sistematis, melalui berbagai langkah atau teknik.
Spiegelberg dalam Phenomenologi Movement
(1971) merinci tujuh langkah yang terdapat dalam metode fenomenologis. Yang
paling mendasar dan digunakan secara luas, juga oleh para ahli psikologi,
adalah deskripsi fenomenologis bisa dibedakan ke dalam tiga fase: mengintuisi,
menganalisis, dan menjabarkan secara fenomenologis. Mengituisi artinya
mengkonsentrasikan secara intens atau merenungkan fenomena. Menganalisis adalah
menemukan berbagai unsure atau bagian-bagian pokok dari fenomena dan
pertaliannya. Sedangkan menjabarkan adalah menguraikanfenomena yang telah
diintuisi dan dianalisis, sehingga fenomena itu bisa dipahami oleh orang lain.
Langkah lainnya dari metode fenomenologis adalah Wessenschau, yang bisa diterjemahkan
menjadi ‘pemahaman terhadap esensi-esensi’ (insight
of essences), ‘pengalaman atau kognisi tentang esensi-esensi’ (experience
or cognition of essences). Akan tetapi, Spiegelberg lebih suka
menerjemahkan istilah Wessenschau itu menjadi ‘pengintusian
esensi-eseni’ (intuiting of essences). Istilah ‘pengintuisian’ digunakan
oleh Spiegelberg untuk menghindari kesamaran serta konotasi mistik yang mungkin
timbul dari penggunaan istilah ‘intuisi’ pengistuisian esensi-esensi disebut
juga ‘pengintuisian eidetik’ (eidetic intuiting). Kata ‘eidetik’ berasal
dari eidos yang artinya esensi, yang dipinjam Husserl dari Plato. Fungsi
pengintuisian eidetik itu adalah untuk
menangkap atau mencapai esensi-esensi berbagai hal melalui fenomena. Pencapaian
esensi biasanya menyertakan survai atas sesuatu yang memperluasnya menjadi
lebih umum. Contohnya menyurvai berbagai corak bayangan merah atau objek-objek
berwarna yang mengarah pada pencapaian esensi kemerahan atau warna. Husserl
menyebutkan pencapaian esensi itu reduksi eidetic (eidetic reduction).
Reduksi eidetis bertujuan
mengungkapkan struktur dasar (eidos) dari suatu fenomena murni atau yang
telah dimurnikan. Reduksi ini merupakan prasyarat fenomenologi yang hendak
menjadi ilmu yang rigorous sehingga melampai apa yang bersifat
aksidental atau eksistensial. Caranya adalah menunda sifat yang aksidental atau
eksistensial dari objek sehingga yang tersisa hanya pengalaman itu sendiri.
Menurut Spiegelberg jika fenomenologi hendak menjadi ilmu yang rigorus, ia
harus tidak puas dengan apa yang bersifat aksidental atau eksistensial. Apa
yang bersifat aksidental atau eksistensial adalah sesuatu yang selalu berubah,
tidak tetap, dan tidak pasti. Jika bersifat tidak pasti atau sesuatu yang
selalu berubah, fisafat tidak mungkin bersifat rigorous. Oleh karena itu dalam
reduksi eisetis, yang mesti kita lakukan adalah jangan dulu mempertimbangkan
atau mengindahkan apa yang sifatnya aksidentan atau eksistensal dengan ‘menunda
dalam tnda kurung ‘ sifat-sifat yang aksidental atau eksistensial dari objek.
Reduksi fenomenologis
bertujuan membendung segenap prasangka subjek mengenai objek yang hendak dicari
esensinya. Segala prasangka disimpan dalam ‘tanda kurung’ dan akhirnya reduksi
fenomenologis hanya meyodorkan kesadaran sendiri sebagai sebuah fenomen.
Tujuan reduksi fenomenologis diarahkan pada sujek sehingga yang tersisa
hanya kesadran diri. Syarat utama bagi keberhasilan penggunaan metode
fenomenologis adalah membebaskan diri dari praduga-praduga atau
pengandaian-pengandaian. Adalah merupakan suatu keharusan dalam mengeksprosi
kesadaran itu seluruh penyimpangan, teori-teori, keyakinan-keyakinan, dan
corak-corak berpikir yang telah menjadi kebiasaan, disingkirkan atau ‘disimpan
di dalam tanda kurung’ (bracketed), kata Husserl, meminjam konsep yang
berasal dari matematik.
Reduksi transcendental dimaksudkan bahwa kita samapi pada subjek murni. Sumua yang tidak
ada hubungannya dengan kesadaran murni harus dikurungkan. Dua bentuk reduksi
sebelumnya dimaksudkan untuk memperoleh
esensi objek. Dengan demikian, ada pada tahap ‘kembali kepada objek’. Namun,
karena Husserl lebih tertarik pada ‘subjek’ atau pada gejala kesadaran sendiri,
ia tidak lagi bergelut dengan esensi objek, tetapi dengan esensi subjek
(kesadaran) beserta aktivitasnya. Untuk tujuan tersebut, disusunlah sebuah prosedur
reduktif lagi yang disebut reduksi transeendental.
E.
Ciri-Ciri
Psikologi Fenomenologi
Terdapat konsepsi-konsepsi yang berbeda dan konspsi-konspsi yang
keliru tentang psikologi fenomenologi. Dalam arti yang paling luas, suatu
psikologi yang membahas pengalaman personal dalam buah pemikirannya, dan yang
membahas pengalaman personal dalam buah pemikirannya, dan yang menerima dan
menggunakan deskripsi fenomenologis, baik secara eksplisit maupun secara implisit,
bisa disebut psikologi fenomenologi. Psikologi ini berlawanan dengan psikologi
yang hanya mengakui observasi objektif atas tingkah laku, dan menyisihkan
introspeksi dan deskripsi fenomenologis dalam metodologinya. Definisi psikologi
fenomenologi yang luas ini paling luas digunakan dan tersirat dalam
tulisan-tulisan sejarawan psikologi Edwin G. Boring.
Dalam arti yang paling sempit, psikologi fenomenologi adalah
psikologi Husserl yang berdiri terpisa dari psikologi empiris dan berfungsi
sebagai batu loncatan kepada bentuk fenomenologi yang lebih radikal:
fenomenologi transcendental. Di antara psikologi Husserl dan fenomenologi
transcendental itu adalah konsep tentang psikologi yang:
1.
Mengikuti
motto Husserl, “kembali kepada berbagai hal itu sendiri” (Zu den Sachen
selbst), yang artinya membiarkan berbagai hal (fenomena) memperlihatkan
dirinya dalam kesadaran.
2.
Melandaskan
penbenaran filosofisnya pada filsafat fenomenologi, dan secara luas
dikonsepsikan sebagai studi tentang data dari kesadaran yang hadir segera atau
langsung, yang validitasnya dibangun diatas konsep, intensionalitas.
3.
Secara
konsisten menerapkan metode fenomenologis, yakni mendeskripsikan fenomena
secara tak terbias.
4.
Menempuh
pengeksplorasian pengalaman manusia dalam segenap fasetnya tanpa
praduga-praduga filosofis.
Jadi menurut konspsi semacam itu,psikologi fenomenologi bukanlah
suatu aliran atau sistem teoretis seperti asosianisme, psikologi Gestalt, atau
psiko-analisis. Psikologi fenomenologi adalah suatu pendekatan, orientasi, dan
metodologi dalam eksplorasi-eksplorasi psikologis.
Yang vital bagi psikologi fenomenologi adalah asumsi bahwa “segenap
observasi dan teori ilmiah pada akhirnya berlandaskan pada pengalaman hidup
sehari-hari yang langsung, segera dan spontan, yang oleh fenomenologi
disingkap” sebagaimana dinyatakan oleh Joseph F. Doncell (1967). Ajaran yang
sama dirumuskan oleh Merleau-Ponty: “Keseruluhan alam ilmu pengetahuan dibangun
di atas dunia yang dialami langsung, dan jika kita ingin mengubah ilmu
pengetahuan itu sendiri kepada penyelidikan yang kukuh dan samapi pada
penaksiran yang tepat atas makna dan lingkupnya, maka kita harus mulai dengan
membangkitkan kembali pengalaman dasar tentang dunia yang bagi ilmu pengetahuan
merupakan ekspresi kedua”.
Cirri-ciri berikut ini yang menunjukan sifat psikologi fenomenologi
berikut realisasinya dengan pendekatan-pendekatan lain dalam psikologi:
1.
Metode
dasarnya adalah metode fenomenologis yang telah dikemukakan sebelunya.
Metode-metode tambahan dan teknik-teknik yang baik bagi studi tentang
pengalaman manusia dan relasainya dengan dirinya sendiri, dengan orang lain,
serta dengan dunia, secara sinambung dicari dan dikembangkan.
2.
Tujuannya
adalah memahami manusia dengan segenap aspeknya.
3.
Minat
utamanya terletakpada pengalaman manusia dan eksplorasi kualitatifnya.
Psikologi fenomenologi juga mempelajari tingkah laku, tetapi menentang
pembatasan yang eksklusif yang menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan
yang hanya mempelajari tingkah laku dan pengendaliannya.
4.
Psikologi
fenomenologi menolak segenap asumsi tentang sifat-sifat kesadaran, kecuali
asumsi bahwa kesadaran itu intensional. Psikologi fenomenologi sangat menentang
konsep “tabula rasa” tentang kesadaran, pandangan yang asosianistik dan seluruh
kecenderungan reduksionis.
5.
Psikologi
fenomenologi menyukai dan menekannkan pendekatan holistic dalam mempelajari
masalah-masalah psikologis.
Ciri-ciri tersebut di atas tidak semua ada pada setiap ahli
psikologi fenomenologi. Kalaupun ada, cirri-ciri tersebut tidak menampakan diri
dalam pemikiran setiap ahli psikologi fenomenologi dalam derajat yang sama.
Bagaimanapun, cirri-ciri tersebut cenderung melandasi, paling tidak secara
implisit, pandangan-pandangan dan penyelidikan-penyelidikan para ahli psikologi
fenomenologi. Pendekatan fenomenologis yang dewasa ini sering bercampur dengan
orientasi eksistensial, telah diterapkan pada berbagai area pskologi secara
teoritis, eksperimental, dan klinis. Para ahli psikologi fenomenologi
menekankan bahwa psikologi mereka bukanlah suatu system yang tertutup,
melainkan suatu gerakan yang selalu tumbuh dan meluas dalam dialektika yang
berkesinambungan dengan orientasi-orientasi lain.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan-pembahasan yang telah disampaikan dapat disimpulkan
bahwa fenomenologi menurut Husserl adalah penjabaran tentang fenomena ‘murni’,
kesadaran atau pengalaman-pengalaman, tanpa mempersoalkan apakah objek-objek
yang dituju oleh kesadaran itu ada secara kongkret atau hanya khayalan (tidak
riel).
Dan di mana ciri khas pemikiran Husserl tentang bagaimana
semestinya menemukan kebenaran dalam filsafat terangkai dalam satu kalimat
“Nach den sachen selbst” (kembalilah kepada benda-benda itu sendiri). Dengan
pernyataan ini Husserl menghantar kita untuk memahami realitas itu apa adanya
serta mendeskripsikan seperti apa dan bagaimana realitas itu menampakkan diri
kepada kita. Namun sesungguhnya usaha kembali pada benda-benda itu sendiri,
bagi Husserl adalah kembali kepada realitas itu sebagaimana dia tampil dalam
keasadaran kita. Apa yang tampil kepada kita itulah yang disebut fenomena.
Fenomenologi secara khusus berbicara tentang kesadaran dan
strukturnya, atau cara-cara bagaimana fenomena muncul pada kita. Karena
kesadaran semestinya merupakan apa, di mana segala sesuatu menyatakan dirinya
dan fenomenologi adalah studi tentang kesadaran, maka fenomenologi merupakan
filsafat utama.
B.
Saran
Diharapkan
pembaca dapat memahami pengertian fenomenologi menurut Husserl. Dan setelah
memahami, kita dapat mengetahui dan menjadikan sebuah pengertian ini sebagai
kajian tersendiri di cabang ilmu filsafat ini.
DAFTAR PUSTAKA
·
Sobur,
Alex.2013. Filsafat Komunikasi. Bandung. PT Remaja Rosdakarya
·
Misiak,
Henryk & Virgiinia Staudt.2005.Psikologi Fenomenologi, Eksistensial dan
Humanistik. Bandung. PT Refika Aditama
·
http://zinabzilullah.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar